Kisah Halimah As-Sa'diyah

 

KISAH Halimah As-Sa’diyah

(Dari air susunya, tumbuh manusia tersuci di muka bumi)

Saatnya kita merasakan kelembutan dan kebahagiaan. Di lembaran – lembaran berikut ini, kita berinteraksi dengan wanita yang menyusui rasulullah SAW., yaitu Halimah As-sa’diyah RA. Dialah wanita mulia yang dari air susunya, tumbuh orang yang paling suci di muka bumi ini, Muhammad Rasulullah.

LAHIRNYA MUHAMMAD SAW

Pada tanggal 12 Rabi’ul awwal, tahun gajah, Muhammad saw. dilahirkan, di rumah Abu Thalib, di perkampungan Bani Hasyim. Rumah inilah yang nantinya disebut rumah Muhammad bin Yusuf (saudara hajjaj bin yusuf), dan sekarang menjadi perpustakaan umum. Semula, beliau di asuh oleh Ummu Aiman, wanita dari habasyah yang menjadi budak ayahnya. Sedangkan wanita yang pertama kali menyusui beliau adalah Tsuwaibah, wanita yang menjdi budak Abu Lahab (paman rasululah).

Hasan bin Tsabit menceritakan, ”saat itu, usiaku tujuh atau delapan tahun. Aku sudah bisa memahami apa yang aku dengar. Aku mendengar seorang yahudi berteriak dengan suara yang keras dari atap bangunan, “hai orang-orang yahudi,” setelah orang-orang yahudi berkumpul, ia ditanya, “ada apa?” orang itu menjawab, malam ini, bintang tanda kelahiran Muhammad muncul. Ibnu ishaq menulis, ”ketika Muhammad lahir, Aminah (ibu rasulullah) mengirim pesan kepada Abdul Muthalib (kakek rasululah), “cucu ayah telah lahir, lihatlah,” Abdul Muthalib pun datang melihat. Aminah menceritakan kepada Abdul Muthalib semua yang di alaminya saat mengandung janin Muhammad saw.

Abdul Muthalib mengendong rasululah ke dalam ka’bah untuk berdoa da bersyukur kepada Allah. Setelah itu, dibawanya bayi itu kembali kepada ibunya. Kemudian, Abdul Muthalib mencari wanita yang bisa menyusui Muhammad. beliau disusui oleh wanita dari bani sa’ad bin bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzu’aib. Saudara-saudara beliau sesusuan adalah Abdullah bin Harist, Anisah binti Harits, dan Hudzafah binti Harist (yang terkenal  sebutan syaima). Konon, syaima beserta ibunya biasa mengasuh Muhammad kecil, kecika beliau di keluarga mereka.

Halimah juga mengasuh Abu Sufyan bin Harist bin Abdul Muthalib (sepupu rasululah). Hamzah bin Abdul Muthalib (paman rasululah) juga di sususkan di bani sa’ad bin bakr. Hamzah bin abdul muthalib adalah saudara sesusu rasulullah dari dua ibu susu, yakni tsuwaibah mantan budak abu lahab dan halimah As-sa’diyah

PERPISAHAN YANG MENYAKITKAN

Halimah meninggalkan rumah Amina dengan penuh kesedihan karena berpisah dari Muhammad. Ia tidak bisa membedungkan air matanya. Halimah betul betul sedih namun di lubuk hatinya dia yakin dia akan bertemu lagi dengan Muhammad, bahkan akan bersatu denganya.

HALIMAH DI MATA RASULULAH SAW.

Muhammad semakin tumbuh besar. Akhirnya, dia menikah dengan Khadijah, putri bangsawan, yang juga majikanya sendiri. Selang beberapa lama waktu dari hari pernikahan itu. Ibu susu Muhammad ( halimah) datang kepadanya, mengadukan musim kemarau dan peceklik yang menimpa perkampunganya. Rasululah memberi tahu Khadijah, maka Khadija memberikan 20 ekor unta untuk dibawa pulang halimah.

BUDI PERKERTI YANG SESUNGGUHNYA

Halimah sangat senang dan bahagia ketika mendengar kabar bahwa rasululah Muhammad anak susunya itu menjadi rasulullah yang di utus rahmat bagi alam semesta. Suatu hari halimah meninggalkan kampungnya untuk melihat anak susunya itu. Melihat kedatanggan ibu susuanya itu, rasulullah langsung melepaskan kain serbanya dan menggerakkannya untuk menyambut kedatangan ibunya itu. Rasulullah sangat memuliakan sampai sampai para sahabatnya itu pun belum mengenal dengan halimah keheranan. Seorang diantara mereka  bertanya kepada orang yang di samping, “siapa wanita itu?” setelah di beri tahu wanita itu adalah halimah, ibu susu rasulullah, barulah orang tersebut paham. Begitulah budi pekerti, kecintaan dan rasa hormat rasululah kepada ibu susunya.

SAATNYA PERPISAHAN

Manis pahit kehidupan yang di alami oleh halimah. Tentu semua itu ada akhirnya. Ia meninggal di Madinah dan dimakamkan di baqi.

Sumber:

Al-Mishri, Mahmud. 2019. 35 Sirah Shahabiyah. Al-I’tishom Cahaya Umat: Jakarta Timur.

Komentar